Mencoba aplikasi pendaftaran online di RSUD Blora

Antrian loket masih molor, Poli Penyakit Dalam kekurangan dokter

Foto: Lahari

Layanan di front office RSUD Blora, di loket pendaftaran. Terdapat banner yang mengumumkan pendaftaran bisa melalui WA dan aplikasi. Pendaftar melalui WA prioritasnya di bawah pendaftar melalui aplikasi.

Selasa, 14 September 2021 18:39 WIB

SAYA mencoba mendaftar antrian periksa ke Klinik Penyakit Dalam dengan aplikasi Sedot A Mas pada Senin, (13/9/2021) sekitar jam 7 malam. Saya dapat antrian di loket pendaftaran dengan urutan 42, tapi antrian di kliniknya dengan urutan 10. Di bukti pendaftaran dalam bentuk file PDF yang saya cetak di kertas disebutkan estimasi terlayani pemeriksaan jam 8.15.

Tepat jam 7.40, Selasa, 14 September 2021 saya berangkat dari rumah. Sekitar 10 menit jarak tempuh dari rumah saya di Jepon menuju ke Blora kota. Tepat 5 menit sebelum jam layanan dibuka pada 8.00, saya sudah sampai di layanan loket pendaftaran. Loket 3 adalah loket yang saya tuju setelah diarahkan bagian informasi. Ini adalah loket khusus untuk yang daftar melalui aplikasi dari rumah, menggunakan kode huruf G di depan nomor antrian. Terdapat 4 loket pendaftaran di front office RSUD Blora, 3 loket masih melayani antrian yang datang langsung.

Jam 9.14 atau satu jam lebih 15 menit setelah mengantri loket 3, antrian saya, G42 dapat panggilan setelah antrian nomor urut 28 menuju 37 tidak nongol pasiennya, dan antrian 37 menuju 42 yang 2 orang pasiennya tidak nongol, prosesnya berlangsung singkat, tak lebih 3 menit sesuai standar operasional yang dibuat manajemen rumah sakit. Sebelumnya, antrian G2 hingga G10 yang sempat saya amati berlangsung cukup lama, antara 5 hingga 10 menit. Lamanya antrian membuat saya memutuskan untuk berinisiatif mengambil foto layanan untuk liputan ini, sambil menunggu nomor antrian saya tiba waktunya. Lagi-lagi prosedur yang berbelit harus saya tempuh untuk sekedar mengambil foto pelayanan di front office. Petugas harus meminta ijin sana-sini untuk mempersilakan saya mengambil foto. Pada akhirnya, pengambilan foto dilakukan staf di Seksi Informasi Bidang Pengembangan dan Informasi RSUD Blora.

Molornya waktu melayani satu pendaftar online disebutkan Widya Arif, petugas di loket 3 disebabkan karena koneksi internet yang bermasalah. Ada juga hambatan lain, yakni BPJS yang bermasalah, selain sinkronisasi data antar server. 

Tak hanya di loket pendaftaran, waktu layanan di poliklinik penyakit dalam juga molor. Hingga jam 10.30, antrian belum ada panggilan periksa. Tenaga kesehatan di poliklinik tersebut mengatakan jika dokter masih kunjungan ke ruangan-ruangan. Visit, istilah mereka.

Plt. Kepala bidang Pelayanan RSUD Blora dr. Puji Basuki M.Kes mengaku jika molornya antrian di Poliklinik Penyakit Dalam lantaran pihak rumah sakit kekurangan dokter spesialis penyakit dalam.

"Kami telah berusaha keras untuk mendapatkan (dokter) spesialis penyakit dalam. Saya selalu woro-woro ke rekan sejawat. Bahkan iming-iming kami tawarkan. Tapi masih saja susah dapat," kata dr. Puji, sapaan akrabnya.

Di poli penyakit dalam hanya punya 2 dokter, yakni: dr. Agustina Parmayanti dan dr. Agustina Fitrianti. Dua dokter ini mengatur jadwal 6 hari dalam seminggu secara bergantian. Dokter Parmayanti dijadwal Senin, Rabu, dan Jumat. Sementara dokter Fitrianti dijadwal Selasa, Kamis, dan Sabtu. Tak hanya melayani di poliklinik, dokter-dokter ini juga melayani di rawat inap. Jadwal kunjungan dokter ke pasien rawat inap dilakukan terlebih dulu sebelum melayani pasien rawat jalan yang menunggu di poliklinik.

Kurangnya dokter ini sudah coba diatasi oleh Pemerintahan Blora yang dipimpin Bupati Arief Rohman dan wakilnya, Tri Yuli Setyowati. Dalam perbincangan saya dengan Bupati Arief Rohman dan Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora Edi pada Juli lalu, mereka bercerita betapa susahnya mencari tenaga dokter untuk mau bekerja di Blora. Belum diketahui secara pasti musabab mengapa dokter-dokter ini tidak mau bertugas di Kabupaten Blora.

Menjadi pasien prioritas

Kurangnya dokter ini membuat pelayanan antrian untuk poli dalam bisa molor dari jadwal jam 9 pagi. Hari itu, Selasa, 14 September 2021, panggilan pertama untuk pasien rawat jalan di poli dalam tercatat jam 10.45. Saya mendapat panggilan ketiga setelah Endah Suci, seorang ibu-ibu yang mendaftar 6 hari sebelum kunjungan pada hari itu. Bu Endah, begitu saya memanggilnya saat berbincang di tengah antrian, mendaftar dengan aplikasi Sedot A Mas setelah diberitahu petugas dari Puskesmas Jepon. Ia melakukan pendaftaran pada Rabu, 8 September 2021. Ia berpikir jika mendaftar jauh hari sebelum hari kunjungan bisa mendapat antrian lebih dulu. Ia pun mendapat antrian G8, yakni nomor urut 8 pada jadwal kunjungan 14 September 2021. Ternyata sudah ada 7 pasien yang menjadwal terlebih dulu pada hari yang sama. Tapi pasien-pasien ini bukan hanya pasien poli dalam, tapi poli-poli lainnya juga. jadinya meski urutan 8 dalam antrian di loket pendaftaran, Bu Endah dapat urutan 2 di antrian poliklinik, dan saya urutan 3 kendati dapat urutan 42 saat antri di loket pendaftaran.  

"Rata-rata per hari, pendaftaran pasien melalui aplikasi Sedot A Mas bisa capai 30 hingga 50 pasien," sebut dr. Puji sembari menyebut jika pada hari kunjungan saya jumlah pasien yang menggunakan aplikasi mencapai lebih dari 50 pasien. Ini yang tercatat dalam aplikasi. Namun yang tercatat datang bisa kurang, seperti pada hari itu antrian ke-29 hingga ke-37 tidak nongol pasiennya.

Bu Endah dan saya termasuk prioritas dalam antrian di poliklinik. Beda dengan Nyami, seorang ibu-ibu yang ikut dalam perbincangan di tengah antrian. Warga Tegalgunung ini karena merasa dekat dengan rumah sakit memilih datang pada jam 4 pagi ke RSUD Blora untuk mengambil antrian. Ia dapat antrian ke-16, dengan kode dan nomor antrian A16. Ia datang ke loket pendaftaran saat loket buka pada 8 pagi. Tapi di antrian poliklinik, ia mendapatkan panggilan setelah saya dan Bu Endah. Dokter Puji mengatakan, pasien yang mendaftar dengan aplikasi akan mendapat prioritas layanan saat antri di poliklinik. Namun ia mengaku jika waktu antrian di loket pendaftarannya perlu diperbaiki agar waktu tunggu tidak lama.

"Mulai besok (Rabu, 15/9/2021) kami tambah jadi 2 loket (untuk layanan pendaftar online)," katanya.

Jika ditambah jadi 2 loket, berarti loket pendaftaran yang datang langsung akan berkurang dari 3 loket jadi sama 2 loket. Dengan bertambahnya loket untuk aplikasi pendaftaran online, secara otomatis waktu tunggu antrian di loket pendaftaran akan lebih singkat dari sebelumnya.

Inovasi waktu antrian di apotek

Kepala bidang Pengembangan dan Informasi RSUD Blora Joko Lelono mengatakan, salah satu yang saat ini sedang dipikirkan manajemen RSUD Blora adalah mempersingkat waktu tunggu di apotek. Maklum, waktu tunggu di sini juga berlangsung lama. Saya menghabiskan waktu tak kurang dari satu jam untuk menanti obat yang diresepkan dokter setelah periksa di poliklinik. Secara total, waktu tunggu antrian seorang pasien dari pendafataran hingga pemeriksaan di poliklinik dan menerima obat di apotek bisa menghabiskan tak kurang dari 3 1/2 jam. Ini waktu tunggu untuk pendaftar online. Jika pendaftar langsung ke rumah sakit bisa lebih dari 4 jam. Kalau anda datang jam 8 ke rumah sakit untuk kunjungan ke dokter, anda bisa pulang setelah jam 1 siang.

"Waktu tunggu saat antrian di apotek sudah kita pikirkan. Kita tengah mengembangkan inovasi layanan untuk pasien saat antri di apotek," kata Joko Lelono.

Salah satu ide inovasi disebutkan Joko Lelono adalah melakukan kerja sama untuk pengiriman obat ke pasien. "Jadi pasien setelah menerima resep dari dokter dan kemudian memberikannya ke apotek, setelah itu bisa ditinggal pulang. Nanti kita antar obatnya," jelas Joko Lelono sembari menambahkan jika manajamen RSUD Blora tengah menjajaki kerja sama dengan Kantor Pos.

Cepat atau lambatnya waktu layanan kesehatan bagi pasien adalah cukup penting, apalagi bagi pasien yang gawat dan perlu pertolongan cepat. Sementara bagi pasien rawat jalan, cepat sembuh dari sakitnya adalah harapan bagi mereka, sehingga ingin cepat-cepat dapat pengobatan. ***